Pekan Gawai Dayak XVIII Melawi Resmi Dibuka: Wadah Syukur, Persatuan, dan Penguatan Jati Diri Budaya

banner 500x500

MELAWI, Kalbar//frnkalbarnews.com – Pekan Gawai Dayak Kabupaten Melawi ke-XVIII Tahun 2026 secara resmi dibuka pada Kamis (28/5/2026) di Stadion Raden Temenggung Setia Pahlawan. Perhelatan akbar budaya ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Dayak untuk merawat identitas, memperkuat persatuan, sekaligus meneguhkan nilai-nilai tradisi di tengah derasnya arus modernisasi.

Upacara pembukaan dihadiri langsung oleh Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Melawi, Dadi Sunarya; Wakil Bupati Melawi, Malin; Ketua DPRD Melawi; Sekretaris Daerah Melawi, Paulus; Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Melawi, Kluisen; serta Hendegi Januardi Usfa Yursa. Kehadiran juga ditandai oleh para unsur pimpinan dan anggota DPRD, Kapolres Melawi AKBP Harris Batara Simbolon, Dandim 1205 Sintang, para tokoh adat, tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, serta jajaran pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Melawi.

Bacaan Lainnya

Lebih dari Sekadar Festival Budaya

Ketua Panitia Pelaksana Gawai Dayak Kabupaten Melawi XVIII, Saleh Tapa, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tahun ini bukan sekadar perayaan atau festival budaya biasa, melainkan sebuah ruang refleksi dan penguatan jati diri bagi seluruh masyarakat adat Dayak.

Mengusung tema besar “Dayak Bebiris’ Sigik Nyuruh Bisik’ Seloka Nyuruh Berada’ Budaya Zaman Tuha. Resistensi Masyarakat Adat Dayak di Tengah Kemajuan Zaman”, serta subtema “Nilai Kemandirian dan Kekuatan Sosial dalam Tradisi Gotong Royong Masyarakat Adat Dayak dan Nilai Perjuangan Masyarakat Adat Dayak dalam Menentang Perubahan Zaman”, perhelatan ini dimaknai sebagai simbol semangat kebersamaan dan perjuangan melestarikan budaya leluhur.

Menurut Saleh, pelaksanaan Gawai Dayak sejatinya merupakan wujud nyata rasa syukur masyarakat Dayak kepada Jubata atau Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan kelimpahan hasil alam, khususnya hasil panen, yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Gawai Dayak adalah roh spiritual masyarakat Dayak. Esensinya adalah ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak dapat dipisahkan dari aspek alam, ritual, sosial budaya, dan adat istiadat,” tegas Saleh.

Wadah Persatuan dan Penggerak Ekonomi

Lebih jauh, Saleh Tapa berharap Gawai Dayak ini dapat menjadi wadah silaturahmi yang erat antar-suku dan etnis yang ada di Kabupaten Melawi, sekaligus menjadi bentuk nyata penguatan keberagaman budaya di tingkat nasional. Tidak hanya soal budaya, kegiatan ini juga diyakini mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, terutama dalam mendongkrak omzet pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta menggerakkan ekonomi kreatif lokal.

Ia juga memotivasi kehadiran tokoh-tokoh Dayak nasional, salah satunya Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, agar dapat menginspirasi generasi muda Dayak untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tujuannya, agar lahir tokoh-tokoh baru dari kalangan muda yang mampu bersaing dan berkiprah di tingkat nasional maupun global.

“Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak, para tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda lintas generasi, serta Pemerintah Kabupaten Melawi atas segala dukungan yang telah diberikan demi terselenggaranya kegiatan ini,” tambahnya.

Tantangan Anggaran dan Semangat Gotong Royong

Di balik kemeriahan dan semangat pelestarian budaya, panitia pelaksana ternyata menghadapi tantangan cukup besar dalam hal pendanaan. Saleh Tapa mengungkapkan, kebutuhan anggaran untuk penyelenggaraan Gawai Dayak XVIII ini mencapai Rp347.118.000. Namun, hingga saat ini dana yang berhasil dihimpun baru mencapai Rp248.365.000, sehingga masih terdapat kekurangan anggaran sebesar Rp98.753.000.

Meski demikian, ada kabar menggembirakan dengan adanya bantuan yang diserahkan langsung oleh Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, sebesar Rp50 juta.

“Puji Tuhan, ada bantuan dari Pak Lasarus sebesar Rp50 juta,” ungkap Saleh.

Meski masih ada kekurangan dana, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat panitia. Ia menegaskan bahwa semangat Bebiris atau gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan acara tahun ini.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Dayak dan pihak terkait untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan mendukung kelancaran selama empat hari kegiatan berlangsung. Ia juga meminta dukungan penuh aparat keamanan, khususnya jajaran kepolisian, untuk bersinergi menjaga kondusivitas wilayah selama rangkaian acara berlangsung.

“Melalui Gawai Dayak ini, kita ingin menunjukkan kepada semua pihak bahwa masyarakat Dayak mampu bersatu, menjaga budaya, dan terus maju. Sehingga kemajuan suku bangsa Dayak senantiasa tercermin di mata Indonesia bahkan dunia,” pungkas Saleh Tapa mengakhiri sambutannya.

( Rabi )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *